Kita bisa menilai seseorang dari tutur katanya, begitu pesan Ayah saya—dan mungkin juga orangtua Jawa lainnya. Bahkan hanya berdasarkan satu kalimat, kita bisa mengungkap cukup banyak hal, seperti yang pernah saya alami—atau lebih tepatnya—curi dengar. Ini pernah saya ceritakan kepada beberapa kawan lain, tapi marilah saya tuturkan kembali di sini.

Kejadian ini—untuk tidak menyebutnya sebagai insiden—terjadi di bilangan Kuningan. Di sebuah kafe, resto, atau apalah namanya (ketidakpedulian atas istilah ini juga bisa menjelaskan sesuatu: saya bukan pelanggan reguler tempat nongkrong tertentu, atau sekadar peduli setan dengan definisi tempat nongkrong yang kian samar—buat saya: semuanya sama saja), tepatnya di dalam kompleks Pasar Festival yang sekarang bersalin rupa dan nama menjadi Plaza Festival. Saat itu saya sedang mengobrol dengan sahabat saya. Di jeda obrolan, saya merasa ada seseorang yang lewat di belakang saya, lalu orang bersuara perempuan itu berseru kepada temannya, “Bawa umbrella, lagi! Najis!”

Kontan saya tertawa kecil dengan cukup sopan, walau pikiran saya tidak. Saat itu juga, agar sahabat saya tak mengira saya kesambet, saya jelaskan penyebab tawa saya kepadanya. Sambil menjelaskan, saya melihat perempuan itu masih berdiri di dekat kami, mengobrol bersama beberapa temannya yang lain—dua atau tiga orang, saya lupa—tapi satu di antaranya adalah lelaki sang pembawa payung itu. Saat itu Jakarta memang baru kehujanan. Masih ada rintik-rintik yang ketinggalan. Seperti apa perempuan akhir 20-an itu tidak begitu penting, karena saya sedang malas mendeduksi lebih jauh. Cukuplah dari satu kalimat yang dinyatakan olehnya saja, yang setidaknya bisa mengabarkan dua hal.

Pertama, perempuan itu mengidap inferioritas berbahasa yang akut. Tentu saja, tak terhindarkan, semakin kemari tutur kata kita makin “kemInggris”. Terutama buat kata-kata Inggris yang padanannya telat dan terdengar ganjil. “Mengunggah” dan “mengunduh” untuk “upload” dan “download” misalnya, yang dalam telinga Jawa biasa terdengar digunakan seseorang untuk mengucapkan “mengunggah mangga” dan “mengunduh mantu”—yang kalau diplesetkan balik, bisa jadi “upload mangga” atau “download mantu”. Terkadang, ada juga istilah lain yang ‘nyangkut begitu saja ke dalam mulut kita seperti “which is” yang sebenarnya bisa diganti dengan “yang mana” atau “worth it” yang bisa diganti jadi “sepadan” atau “sebanding”.

Saya bilang perempuan itu mengidap inferioritas berbahasa yang akut karena yang dia alihbahasakan adalah “payung”. Payung tentu sudah kita kenal sejak kecil. Negeri ini pun tidak kekurangan hujan dan ibu kota ini sama sekali tidak kekurangan banjir untuk membuat kata “payung” lenyap dari jangkauan telinga kita. Tidak seperti “yang mana” yang lebih sering diucapkan dalam diskusi rada resmi. Tidak juga seperti “sepadan” atau “sebanding” yang makin menghilang dari kuping kita dan paling cuma tersisa pada terjemahan (atau “translasi”?) film-film asing pada saluran televisi berbayar. Ini payung. Sebuah kata sederhana untuk barang sederhana.

Dari situ, bisa kita tarik kesimpulan bahwa perempuan itu mungkin berasal dari lingkungan (kerja atau keluarga) yang menggunakan bahasa Inggris atau keminggris dengan intensitas tinggi, sampai bisa sekonyong-konyong mengubah “payung” jadi “umbrella”. Tempat nongkrong di Plaza Festival bisa jadi cukup mengonfirmasi hal itu, terutama kalau kita mau sedikit lebih jauh membahas kelas sosial, misalnya. Namun sekarang, ada informasi tambahan tentang lingkungan pergaulannya, yang berhasil membuat “payung” terdengar kurang keren baginya daripada “umbrella”.

Kedua, perempuan itu tidak melek persoalan gender. Mungkin melek—sedikit—mungkin sadar, tapi kesadaran itu belum mengejawantah hingga memengaruhi caranya memandang dunia. Kata seorang teman, itu kesadaran yang baru sampai awareness, belum sampai consciousness—dan celakanya, dalam bahasa Indonesia kedua kata itu diterjemahkan sama: kesadaran. Kalau masih perlu diuraikan, kurang-lebih begini: pernyataan itu ditujukan kepada seorang laki-laki pembawa payung dengan anggapan bahwa laki-laki yang maskulin tak sepantasnya memakai payung—hanya perempuan yang pantas menggunakan payung. Jangan lupa pula, bahwa di akhir kalimatnya (“Bawa umbrella, lagi! Najis!”), dia menambahkan kata “najis” yang walau terdengar bercanda tetaplah merujuk pada sesuatu yang tak sepatutnya. Dari sini, kita bisa menduga serial anggapannya yang lain. Mungkinkah wanita itu masih percaya bahwa perempuan itu cuma “alas kaki di siang hari dan alas ranjang di malam hari” bagi laki-laki? Atau dalam bahasa Jawa, “awan teklek bengi lemek”? Entahlah. Tapi dari satu kalimat itu ada dua hal setidaknya yang bisa kita kira-kira dari seseorang. Mungkin nanti-nanti, begitu ada contoh lain, akan saya tuliskan juga di sini.***

Advertisements

Screen Shot 2013-06-09 at 5.52.47 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.53.54 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.04 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.07 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.09 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.11 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.15 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.18 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.22 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.24 PMScreen Shot 2013-06-09 at 5.54.30 PM

Prometheus (Ridley Scott, 2012).

Tanpa pengalaman atau rekomendasi, bagaimana kita tahu kalau sebuah warung makan atau restoran menjual makanan yang enak? Biasanya simpel: selera umum. Dengan kata lain: pengunjungnya banyak. Kecil kemungkinan ada sebegitu banyak lidah yang mati rasa atau sekadar nahas karena tak punya pengalaman bagus sepanjang hidupnya untuk membedakan mana makanan yang enak dan mana yang tidak. Namun terkadang kita mencari pada saat sepi. Mungkin di hari Minggu atau di luar jam makan manusia normal. Bisa jadi, sebuah restoran itu sebenarnya enak sekalipun tak berpengunjung.

Jika Anda berada di sebuah restoran gaya lama, yang belum menggunakan mesin kasir, dan kebetulan meja tempat pembayarannya ada di depan, tempat yang sama dengan tempat Anda memesan, mungkin ini bisa membantu. Kalau Anda tak mau dibilang tak sopan karena cuma mengecek saja, Anda bisa memesan minuman saja—jus misalnya, biar lebih masuk akal untuk pesan cuma satu tapi minta dibungkus—dan pada saat itulah Anda mengecek isi meja yang minus mesin kasir itu. Jika hasilnya memuaskan perkiraan Anda, Anda bisa batalkan bungkusan Anda dan bilang Anda ingin makan di situ. Jika hasilnya tidak sesuai perkiraan, Anda tinggal lenggang kangkung membawa bungkusan jus—yang semoga saja enak.

Apa yang Anda cek adalah: jumlah bon yang ditusuk di paku bon. Bandingkan jumlah bon itu dengan waktu buka restoran. Apakah, misalnya, 6 jam restoran buka bisa menghasilkan sekitar 40-an bon bisa membuat Anda percaya kalau restoran itu penuh, dan karena penuh berarti kemungkinan besar makanannya enak? Cuma Anda yang bisa menjawabnya. Tapi tentu lebih baik daripada tebak manggis. ***

2013-06-07 18.06.33

Satu lagi tulisan lawas. Ini tulisan pertama saya untuk majalah luar negeri, Art Monthly Australia, pada edisi #244, Oktober 2011 yang bertema “Eyes on Indonesia”. Ini sebuah ulasan tentang karya seni rupa publik di Jakarta pada 2009—tiga tahun sebelum tulisan ini dibuat. Ulasan lawas tentang karya lawas. Namun editornya meyakinkan bahwa jika karya ini penting, ia perlu ditulis. Ulasan ini tentu saja tidak saya tulis langsung dalam bahasa Inggris. Saya tulis dalam bahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan oleh Pitra Hutomo, lalu disunting oleh Maurice O’ Riordan, editor majalah itu.

Group photo showing the 32 itinerant photographers with ‘Monas’ behind. Photograph by Daniel Kampua.

Group photo showing the 32 itinerant photographers with
‘Monas’ behind. Photograph by Daniel Kampua, 2009.


For
photographer Daniel Kampua, no one is more meritorious than the itinerant photographer to validate the presence of millions in front of The National Monument (Monas) in Jakarta.(1) The photographers who have been there since a few years after the monument was completed in 1975,(2) were using Polaroid cameras until around 2004 when they switched to digital cameras and photo printers connected to a dry cell, able to produce a contact sheet on the spot. Two years have passed since Daniel held a photo exhibition dedicated to the itinerant photographer in 2009. However, his exhibition, Monas dan Kita (‘Monas and Us’), remains a prime example of recent, important public art in Indonesia, and probably will as long as the monument still stands.

The presence of Monas, the centrepiece of Merdeka Square in Central Jakarta, the capital of Indonesia, is like a magnet to Indonesians. With a height of 117.7 metres, the monument is crowned with a gold-plated flame replica standing upright on a seventeen-metre cup, inspired by the symbols of lingga and yoni: male and female, or day and night. Construction for this exercise in nation building began in 1961 in the time of Sukarno, Indonesia’s first president, together with architects Frederich Silaban and RM Soedarsono. It was meant to symbolise the great spirit of a young nation and a place where Indonesians would feel welcome.

Author Pramoedya Ananta Toer once said: ‘People do not feel that they have become truly Indonesian until they have seen Jakarta’, which was confirmed later through the saying: ‘You haven’t been to Jakarta if you haven’t been to Monas.’ Every year, hundreds of thousands visit the monument. Not all of these visitors will have seen Jakarta in any detail yet they will have seen Monas. The photographs taken there are a valid and affordable proof of their presence, which is where the itinerant photographers offer their services.

At first Daniel was not one of these visitors. Like most youth born and raised in the capital city, he had little interest to visit the state monument. In fact even in his childhood as a student, unlike most students in Indonesia, he somehow evaded the obligatory school-visiting program to Monas. Thus, there was no pre-existing relationship between Daniel and Monas. It wasn’t till later in his life that Daniel and the Monas were connected through photography. It began in late 2007 when as a student majoring in photography at the Institut Kesenian Jakarta (Jakarta Institute for the Arts) he was assigned to do a photo essay. Soon he was captivated with what he observed at the Monas, especially the diverse activities which take place in its vicinity.

The monument was not originally intended to be a site for the many social functions that happen there today. This great national symbol stood to be admired as the centre of Indonesia and, possibly for Sukarno, the centre of the world. Nonetheless many social functions are fulfilled in Merdeka Square because of the scarcity of public space in Jakarta. Such diverse activities were captured in Daniel’s photo essay during his three-week field trip: people sharing a laugh, playing sport, couples dating or, to quote his statement, ‘yoga, massage or simply lying under the trees’.

Daily scene in Merdeka Square, Jakarta. Photograph by Ardi Yunanto, 2011.

Daily scene in Merdeka Square, Jakarta. Photograph by Ardi Yunanto, 2011.

Daniel certainly wasn’t the only person taking photographs of visitors there. He later met a number of itinerant photographers with whom he quickly became familiar. The key distinction between them was that Daniel was still a studentamateur while the self-taught photographers earn around 400,000 rupiahs per day (AUS$44), a daily wage commonly paid to middle-class workers in Jakarta. Despite a perception from studiobased professionals which generally underestimates itinerant photographers, being among them made Daniel feel his skills meant very little. ‘I realised that even though I’ve learned many techniques in photography, I haven’t been able to live from my own skills’, he admitted, continuing: ‘Meanwhile they have been able to live and provide for their families from photography.’

Daniel’s appreciation for the itinerant photographers was clearly evident when I invited him in late 2008 to participate in a public art workshop. This was as part of The Battle Zone, one of three programs for the Jakarta Biennale XIII 2009: Arena held by Jakarta Arts Council where I was curator. Daniel chose Monas as his project location and aimed to exhibit shots taken by the itinerant photographers there. He stated to other participants in the workshop that his intentions were not merely to validate the photographers’ existence but also because he had a growing interest in their photographs – which did strike a chord as we all engaged with and were entertained by their work. In the photographs, Monas was not regarded as just a huge concrete backdrop for straightforward portraits. Instead it was a site for play and illusion. Some photographs showed people’s height to match the Monas; in others they appeared to lean against it, or to light a cigarette using the flame replica at the top.

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009.

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009. #1

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009. #2

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009. #2

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009. #3

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009. #3

02_5

Image of work by Monas photographer, from the exhibition, Monas and Us, 2009. #4

Such optical illusions are made more feasible with a digital camera which offers a wider lens (than the Polaroid, for example), better light processing and after-shot preview. The Monas photographers were among the first users of digital cameras in Indonesia, which made them an instant hit photographing visitors to the Monas. No one can be sure who invented these illusory poses. Perhaps, as some of the photographers recall, it was influenced by a technique used by one of the visitors while taking photographs of his family in front of Monas, the technique later developed and practised between them. Optical illusions occur in photographs of great buildings all over the world, similar to what one may find in photographs of the Eiffel Tower, the Leaning Tower of Pisa or the Taj Mahal.

Over two months, Daniel and the photographers made a selection of the best and most unique photographs to be exhibited, the printed shots from their promotion catalogue transformed to a neat display on a big panel. Daniel also took pictures of the itinerant photographers with Monas as the background. It was their first time to be in a photograph altogether, despite the fact that they had been photographing visitors with this same background for many years. Reviewing the exhibition for Karbonjournal.org, Irma Chantilly wrote: ‘Daniel made them own the monument as well,’ as Monas is, through the work of these photographers, ‘symbolically owned by the photographed visitors’.

04

Exhibition view, Monas and Us, The National Monument, Jakarta, 1 to 28 February, 2009. Photograph by Deni Septiyanto. © Jakarta Arts Council, 2009.

For a whole month the piece was exhibited in front of a tunnel heading to Monas’ ticket booth. It consisted of a large (1 x 2 metre) group photo of the thirty-two itinerant photographers next to 128 photographs displayed on a 2 x 7 metre panel. Visitors were given the opportunity to see the faces behind the camera whose services deserve recognition.

Among many examples of public art in Indonesia, Monas dan Kita is one of the few that directly targeted the issue of a particular public space and collaborated with a particular community (and communities) related to the space. Daniel’s main motivation, through the exhibition, was to convey his appreciation for the itinerant photographer. Previously, the itinerant photographer was not just simply taken for granted by visitors, but also ignored by Monas management. The fact that the management gave a permit for the exhibition and didn’t charge a fee, as they usually do for film and commercial shoots, was I believe because both Monas management and Jakarta Arts Council are responsible to the Ministry of Culture and Tourism.

However, the exhibition did to some degree irritate the management, as indicated by their reaction to the photographers’ dress in Daniel’s group photo. Without a uniform the photographers apparently look as if they are doing illegal business. So on the third day of exhibition, the management requested some kind of uniform. Although they didn’t actually provide a uniform, they thought that it would at least make them look legitimate and trusted by visitors.

The project’s impact was well beyond expectation. Daniel’s group shot (the result of a second session) served to reconcile the photographers among each other, and the exhibition brought them unprecedented interest and respect. During the month of exhibition their income increased by 20%. Nonetheless, they were most impressed with the act of appreciation itself. ‘What I most like is the texts beside the photo’, said Wawang to Tempo magazine in a 2009 interview. ‘To me, the texts were intended to give us, itinerant photographers, appreciation.’

An artist may always have his/her own vision regarding public space. However it is important to ask how meaningful artworks in public spaces are to the public? Does the presence of the work change anything? Is it merely there to shock or to effect an actual change of perception? Besides, how significant is the public for an artist? Is the public simply regarded as a problem that needs to be addressed, so involvement is not so important because the artist is considered an expert? Is the public considered as audience, client or friend? Where the public is directly involved, is it merely to assist the completion of an artwork, and if their involvement doesn’t actually reshape a work’s artistic intentions can we refer to it as a truly collaborative work?

In Daniel’s case, he realised that he had to be fully engaged with the itinerant photographers. Although the exhibition was probably a lifetime opportunity for them to be appreciated through such a platform, Daniel knew it was not easy to be a part of them. His idea was well received. The photographers’ data was stored for one month where otherwise daily shots are usually erased immediately because either they or the visitors only need printouts. At the same time Daniel developed a friendship with them. During this time he was surprised to discover the hostility between them. This was why he insisted on a second group photo session; not all photographers were present for the first one. Daniel’s insistence on the second shoot was not to claim his own ‘signature’ (against the best works from the itinerant photographers with whom he made the selection). It needed to be done because only through the representative group photo could the relationship between their work (photographing visitors to the Monas) and the Monas site itself be fully recognised. Through their photographs, Monas is not necessarily ‘owned by the  itinerant photographers’. Their existence represented by (or through) it, however, is significant proof of their role within its immediate environment.

I can hardly imagine this project being done by other parties such as the government or private institutions which in Indonesia tend to consider economic improvement and legality as the barometer for so-called social improvement. Daniel was targeting a social issue however it was not necessary for him to increase the photographers’ income. His project is an art project not a social project, also keeping in mind that their income well exceeded his own despite the assumption that itinerant photographers are people from the lower class engaged in unofficial or ‘unskilled’ work.

Daniel’s intention was not one of social engineering therefore his approach was also different. His friendliness allowed him to casually adjust poses of the photographers during the group photo session. I found it very touching when I saw him directing the group through calling each name of the thirty-two persons in a friendly manner – since I am not so good in remembering names myself. Camaraderie is not necessarily formed through fear of a common enemy but also by the presence of a new friend. As Irma writes: ‘They might become hostile again later on. The moment of camaraderie, however, will last forever in the picture.’ Since that day, Daniel has dozens of new friends who won’t leave him alone among the crowds at Monas. ‘Daniel?’, one of the photographers smiled cheerfully when I mentioned the name. ‘Yes, sometimes he drops by, hangin’ around, having a drink with us. How is he doing? I heard he’s working now. Tell him we say hello!’ ***


*

End Notes
(1). In this context, the itinerant photographer is simply one who comes to the Monas site each day for work; they’re not strictly ‘professional’ and generally don’t have a fixed studio address.

(2). The construction of the Monas actually took fourteen years to complete. Its delay was due to economic problems (unlike other monuments, its construction wasn’t paid by overseas investment), and political upheaval, namely Soeharto’s coup d’etat in 1965, leading to widespread bloodshed and his presidential appointment in 1968.

 

2013-04-23 09.07.10

Minggu malam lalu, 21 April 2013, sahabat saya menanyakan sesuatu yang mengantar saya pada tulisan ini. Pertanyaan yang sederhana. Buku menarik apa yang terakhir saya baca? Namun susah dijawab. Masa-masa saya paling banyak membaca buku itu sekitar 2003 – 2010. Saya membaca apa saja. Walau yang lebih banyak tertinggal dalam ingatan hanyalah poin-poin penting atau malah impresinya saja. Belakangan, saya lebih sering membaca buku demi menunaikan pekerjaan. Dan bisa ditebak, sebagian besar tak selesai. Agak lama, baru saya ingat buku menarik apa yang terakhir saya baca sampai selesai. Mengandalkan ingatan yang tak bisa dipercaya, malam itu saya menjawab: novel The One from The Other karya Phillip Kerr.

Novel detektif ini adalah seri pertama yang kembali menampilkan detektif Bernie Gunther, 15 tahun setelah judul terakhir dari trilogi Berlin Noir (1993), yang memuat novel March Violets (1989), The Pale Criminal (1990), dan A German Requiem (1991). Saya tahu novel ini dari seorang kawan saya, yang meminjamkan Berlin Noir kepada saya dua tahun lalu—dan belum saya kembalikan hingga kini. Terima kasih kepadanya, sejak itu saya menjadi penggemar berat karakter Bernie Gunther. Saya tahbiskan dia sebagai karakter detektif favorit ketiga saya—setelah Sherlock Holmes, detektif Inggris karangan Sir Arthur Conan Doyle dan Imung, detektif cilik Indonesia karya sastrawan Arswendo Atmowiloto. Terima kasih juga kepada seorang kawan lain, yang berkat jasanya, kedua buku seri Bernie Gunther bisa diterbangkan ke dalam negeri untuk saya miliki.

Saya memang menyukai cerita detektif dan misteri. Mungkin karena novel-novel jenis itulah yang saya baca sejak kecil. Rak buku saya sempat dipenuhi buku-buku berisikan karakter-karakter seperti Trio Detektif, Hardy Boys, STOP, Sapta Siaga, Lima Sekawan, penjahat dan detektif dalam seri detektif Wolfgang Ecke, Hercule Poirot, dan tentu saja Sherlock Holmes. Juga karakter-karakter detektif cilik Indonesia lainnya seperti Pulung dan Kelompok 2 & 1, dan tentu saja Imung. Novel-novel yang saya anggap menarik setelah dewasa pun, adalah karya yang mengandung misteri, seperti The Years of Living Dangerously dan The Memory Room karya Christopher Koch, Snow karya Orhan Pamuk, dan Arthur & George karya Julian Barnes. Sastrawi bin misteri. Dalam kesempatan lain, mungkin akan saya ceritakan pengalaman saya membaca kisah-kisah mereka.

2013-04-23 01.12.46

Kembali ke karya Phillip Kerr. Kisah petualangan Bernie Gunther ini unik. Saya sebut petualangan, karena tak seperti Sherlock Holmes yang jenius—bahkan juga Imung yang cerdik—Bernie Gunther sebenarnya tak pintar-pintar amat. Dia lebih sebagai seorang mantan polisi yang jujur, tak takut mati, sinis, cerkas, punya banyak informan dan bisa dibilang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan—salah satunya tentu saja dengan menyuap. Dan sebagai tukang berantem, ia juga tak jarang diringkus lalu disiksa sampai nyaris mampus.

Latar petualangannya juga unik: Berlin, Jerman, pada 1936, 1938, dan 1947. Saat-saat Jerman masih dalam bayangan Nazi. Dan meskipun berlatarkan kota Berlin, novel ini tak ditulis oleh Phillip Kerr dalam bahasa Jerman, tapi dalam bahasa Inggris, sehingga menjadi suatu pengalaman yang cukup ganjil bagi saya dalam membaca sepak-terjang Bernie di tengah detail suasana kota Berlin saat itu, dengan semua nama orang dan jalan dalam bahasa Jerman, sejumlah istilah Jerman yang tak terelakkan untuk disebutkan, namun kamu membacanya dalam bahasa Inggris, seolah itu adalah novel terjemahan dari Jerman, dan kamu tahu bahwa itu bukan.

Seperti kebanyakan novel detektif lainnya, kisah Bernie Gunther ditulis Phillip Kerr dengan gaya sinematik yang kuat. Namun yang saya sukai selain penggambaran karakter yang kuat, jalinan plotnya yang begitu meyakinkan dan seringkali menjebloskan pembaca pada tikungan tajam, adalah karena arsitektur kota yang digambarkan tak semata berdiri sebagai bangunan, pun tak hanya digambarkan lengkap dengan sejarahnya, namun memiliki hubungan yang kuat dengan cerita—dan terutama—dibalut oleh persepsi Gunther yang gelap, yang seringkali justru membuat saya tertawa.

Saya tak bisa membayangkan betapa kompleks riset yang dilakukan Kerr demi menuntaskan setiap novelnya. Namun saya kira, pendidikan hukum penulis Inggris ini, yang pernah ditempuhnya di University of Birmingham pada 1974 sampai 1980, menyumbang landasan yang cukup baginya dalam menelusuri obsesinya atas Jerman dan Nazi, terutama demi memahami situasi politik saat itu.

Bernie Gunther sendiri, ternyata adalah salah satu karakter detektif yang cukup digemari oleh pecinta cerita detektif. Sementara pengarangnya, adalah satu dari 20 pengarang terbaik Inggris versi majalah sastra Granta. Setiap 10 tahun Granta memilih 20 pengarang Inggris terbaik, dan Phillip Kerr termasuk dalam “angkatan” kedua, setelah nama-nama sastrawan lain seperti Martin Amis dan Julian Barnes yang termasuk “angkatan” pertama. Dalam situs The Mistery Bookshelf yang dikelola C.T. Henry dan John Sheridan, Phillip Kerr juga dinobatkan oleh C.T. Henry sebagai penulis terbaik hard-boiled detective fiction mutakhir. “Imagine if Philip Marlowe had lived in Nazi Germany. That’s how good the Bernie Gunther series is. No one today writes as good as Philip Kerr does,” tulis C.T. Henry dalam artikelnya “Today’s Best Hard-Boiled Writers” di situs tersebut. Dan melihat C.T. Henry mengutip tiga narasi Bernie Gunther dalam tulisannya untuk meyakinkan pembacanya, saya mau ikut-ikutan melakukan hal yang sama, dengan kutipan yang berbeda:

That this goddess should be married to the gnome sitting in the study was the sort of thing that bolsters your faith in Money […] Frau Six—I couldn’t get over it—was tall and blonde and as healthy-looking as her husband’s Swiss bank account.

—Bernie Gunther, dalam Berlin Noir (1993), halaman 24.

dan,

“Listen, Frau Protze,” I said. “Jews, gypsies, Red Indians, it’s all the same to me. I’ve got no reason to like them, but I don’t have any reason to hate them either. When he walks through that door, a Jew gets the same deal as anyone else. Same as if he were the Kaiser’s cousin. But it doesn’t mean I’m dedicated to their welfare. Business is business.”

“Certainly,” said Frau Protze, colouring a little. “I hope you don’t think I have anything against the Jews.”

“Of course not,” I said. But of course that is what everybody says. Even Hitler.

—Bernie Gunther, dalam Berlin Noir (1993), halaman 28.

Melalui pemikiran Bernie Gunther-lah saya bisa lebih membayangkan, bagaimana kira-kira perasaan warga negara Jerman tentang Nazi dalam masa lalu kolektif mereka. Pada akhir bab ke-37 dalam buku A German Requiem, Gunther berkata dalam hati:

And then, a few days before I was discharged, it came to me in a sickening realization. Because I was a German these Americans were actually chilled by me. It was as if, when they looked at me, they ran newsreel film of Belsen and Bucherwald inside their heads. And what was in their eyes was a question: how could you have allowed it to happen? How could you have let that sort of thing go on?

Perhaps, for several generations at least, when other nations look us in the eye, it will always be with this same unspoken question in their hearts.

The One from The Other yang terakhir saya baca adalah kisah petualangan selanjutnya dari Bernie Gunther setelah Berlin Trilogy. Selain itu, masih ada lima buku lagi: A Quite Flame (2008), If The Dead Rise Not (2009), Field Grey (2010), Praque Fatale (2011), dan A Man Without Breath (2013). Saya harap saya bisa membaca semuanya. Segera.***

 

Ini juga tulisan lawas, yang saya buat untuk edisi perdana majalah pria Bung! edisi 1 / Oktober – November 2011,  sebuah proyek majalah yang sempat saya kelola bersama kawan-kawan segila di ruangrupa. Tulisan ini untuk rubrik Nasihat Ayah, yang merupakan rubrik pamungkas di halaman terakhir, dan saya yang ketiban pulung untuk mengawalinya. Tulisan ini saya muat kembali di sini, agar bisa dibaca lebih banyak orang. Ilustrasi di halaman tulisan ini dibuat oleh Reza Mustar. Pada saat saya memuatnya sekarang, pada 2013, ayah saya tercinta telah berusia 77 tahun.

BUNG#1_106_Nasihat-Ayah_Penghargaan-yang-teringat_Ardi-Yunanto

Ajaib memang cara kita mengingat. Cerita hadir setiap detik dan otak yang cuma sepetak ini seringkali menyeleksi tanpa izin kisah mana yang tak layak dikenang. Juga melupakan apa yang semestinya diingat. Di 75 tahun usia Ayah saya kini, saya mungkin tak akan pernah tahu apa saja yang dilupakan olehnya. Saya hanya tahu apa yang ia kenang dari ingatan yang selama ini ia titipkan kepada saya melalui cerita-ceritanya.

Sepeninggal kakek yang tak pernah saya jumpai, Ayah menghidupi seorang ibu dan dua adiknya. Pagi hari ia jadi guru SD, siang hari ia jadi murid SMEA, di usianya yang baru 17 tahun. Pernah saking capeknya, ia ketiduran saat bersepeda. Walhasil pohon disambarnya. Sebelumnya, dengan sepeda yang sama ia gemar balapan dengan kereta api dari desanya di Pakis Kembar, dekat Malang, Jawa Timur. Setiap kali sepur meluncur datar, ia kalah. Namun ia kembali menang setiap kali sepur berhenti di stasiun atau tersengal menanjak gunung. Selama 1948-1949, Ayah dan sepur selalu tiba bersamaan di kota Malang. Di sepur itu pula ia suka menumpang bersama kawan-kawannya. Setiap kali sepur menanjak, dan angin menghembuskan api yang meletik dari kayu yang menjadi bahan bakar lokomotif, mereka harus segera loncat agar baju tak bolong, lalu naik lagi saat kereta melaju datar.

Pernah saya bosan mendengar cerita-ceritanya. Namun akhirnya saya mengerti, itulah caranya merawat kenangan. Mungkin ia berharap saya yang akan menceritakan kisah hidupnya kepadanya kala ia benar-benar pikun suatu saat nanti. Kisah anak desa yang pernah 17 kali pindah kos selama di Malang, dan setelah di Jakarta 15 kali pindah hunian di 4 kota dan 3 pulau berbeda, sebelum akhirnya ia pulang kampung—saat segelintir sepeda di kotanya sudah berganti ratusan motor dan hanya rel yang tersisa dari sepur yang tak lagi ada.

Tentu banyak nasihat terselip dalam aneka ria cerita Ayah. Namun ada satu nasihatnya yang justru baru saya ingat belakangan. Memang ingatan biasanya baru muncul saat makna atas kenangan sudah bisa dipahami. Saya lupa kapan dan bagaimana persisnya nasihat itu ia ucapkan. Barangkali setiap tahun di atap rumah menjelang senja atau saat kami mengaso selesai lari pagi. Mungkin juga itu cuma latar yang saya inginkan untuk saya ingat.

“Yang penting dari menjadi laki-laki itu,” ujarnya, “bukanlah kepintaran, tapi bagaimana kamu mampu menghargai kepercayaan orang, sebagaimana kamu menghargai dirimu sendiri. Sekali orang tak percaya kepadamu, kamu akan selesai. Dan dengan segala usaha yang kamu lakukan untuk menghargai kepercayaan itu, secara alami kamu bukan cuma akan menjadi pintar, namun juga cerdas.”

Kini saya mengerti mengapa dulu saya tak paham nasihat itu. Kepercayaan serupa beban. Terlalu sulit dipahami seorang bocah yang lebih gemar bolos dan menghiasi rapor dengan angka merah ketimbang giat belajar—demi kepintaran yang dikesampingkan Ayah sendiri dalam nasihatnya. Tetapi semakin kemari, nasihat itu tak hanya saya sadari sebagai bagian dari hidup saya, namun bagai turut mengungkap kisah Ayah yang tak diceritakannya kepada saya.

Ia adalah seorang pekerja keras yang tak menundukkan hidupnya pada buku-buku. Sastranya adalah seni bertahan hidup seorang pegawai negeri sipil yang tahu betul betapa sulitnya untuk selalu jujur di masa Orde Baru. Saya membayangkan, sering dalam hidupnya ia dikecewakan oleh orang-orang yang semula ia percayai atas kepintaran mereka dalam memaknai jendela dunia.

Rezim lalu berganti. Namun seiring janji palsu sering diucap tanpa malu, kian sulit bagi saya untuk menemukan seseorang yang bisa diandalkan, yang bekerja tak cuma demi sesuap nasi, yang berdedikasi tanpa perlu menjadi abdi, yang tak pamrih sekalipun itu demi surga milik Tuhan. Susah juga menjadi orang yang bukan seperti itu.

Sementara usia jelas menyerap kekecewaan. Mungkin bagi Ayah, tak pantas melontarkan kekecewaan sebagai amarah kepada seorang bocah yang ingusnya masih hijau melihat dunia. Ia bungkus kisah pahitnya dengan anekdot petualangan. Berharap anaknya nanti tak melihat kerja keras sebagai beban yang muram.

Mungkin saya memang tak perlu mengetahui apa saja yang tak diceritakannya. Ia telah melupakan banyak hal. Barangkali pula kekecewaan baginya adalah hal biasa, yang pasti dan harus dialami setiap orang. Andai kekecewaan itu masih ia rasakan dalam kenangannya, ia telah memilih menyisakan gunanya bagi saya. Ia bungkus kekecewaan itu dengan nasihat. Berharap anaknya nanti tak memandang kepercayaan dengan ringan, namun menghargainya dengan nyaman. Agar apa yang nantinya tak saya kenang, bukanlah dampak dari pilihan saya untuk melupakannya. Namun hanya karena lupa yang lumrah seiring usia mengikis ingatan, atau karena itu telah menjadi hal yang terlalu biasa untuk diingat. Ia ingin saya mengenang hidup dengan penghargaan.***

 

 

 

 

 

Ini tulisan lawas, yang merupakan tulisan daur ulang dari materi yang pernah ada di Multiply saya, untuk kemudian dimuat dalam majalah pria Bung! edisi 2 / Desember 2011 – Januari 2012, sebuah proyek majalah yang sempat saya kelola bersama kawan-kawan segila di ruangrupa. Saya muat kembali di sini, biar tersimpan, atau bolehlah dianggap sebagai nostalgia. Empat halaman tulisan ini didesain oleh Andang Kelana, tata letak oleh Genoveva Hega D.M., dengan fotografi karya Stephani F. Halim, dan lead tulisan oleh Roy Thaniago.

Teras dan ruang tamu dalam nostalgia_1 Teras dan ruang tamu dalam nostalgia-2

BUKANKAH DI SANA KITA PERNAH BERJAYA?

Belum lama berselang, saya mengencani seorang perempuan yang masih tinggal dengan orangtuanya. Malam pukul tujuh, tibalah saya di muka pagar rumah tua bergaya art deco yang berada di pusat ibukota itu. Ketika saya tepekur memandangi deretan jendela besar dan panjang berkusen kayu yang dicat putih dengan teralis horisontalnya yang khas, serta pekarangan yang dinaungi pohon-pohon rindang dan dirimbuni tanaman sarat bunga, sekonyong-konyong baru saya sadari kalau sudah lama rupanya saya tak “apel malam Minggu” seperti ini. Setelah lulus kuliah, kebanyakan pasangan-pasangan saya tinggal sendirian di kamar kos, rumah kontrakan, atau apartemen sewaan. Di semua tempat minus orangtua itu, tata krama jadi tak diperlukan. Apel malam minggu itu jadi amat penting buat saya. Bukan cuma karena semua kiprah lanjutan saya bagai nostalgia SMA, namun sekaligus mengingatkan saya akan pernak-pernik keresahan kencan remaja pria pada zaman saya.

Menunggu sesaat setelah saya menekan bel, pintu ruang tamu terbuka. Bel yang santun dan halus bunyinya itu akhirnya mengeluarkan mahkluk yang tak kalah halusnya. Dia berlari-lari kecil melintasi tegel-tegel batu kali yang disebar tiap sejengkal di atas rumput Jepang. Gaun terusan putih yang dia kenakan malam itu membuatnya tampak begitu anggun—walau bisa jadi menyeramkan kalau dikenakan di dekat kuburan. Wajah manisnya berseri-seri saat jemari mungilnya membuka kunci pagar. Rambut hitam panjangnya tergerai tertiup angin bagai ulah model sampo. Ketika harum tubuhnya semerbak, saya pun terjebak.

Lalu berlangsunglah ritual lawas pengobar nostalgia itu. Salaman dengan orangtuanya, barangkali soal kecil. Namun begitu kemampuan basa-basi masa SMA saya teramalkan sepenuhnya, refleks saya akan pemetaan ruang pun turut menyala-nyala. Yang jadi soal besar malam itu malah kondisi ruang tamu dan terasnya, yang dalam sekali sapu pandang saja bisa langsung disimpulkan dengan muram. Sumpah, ini bukan rumah kencan idaman, terutama jika sekarang saya masih SMA.

Kenyataannya, teras dan ruang tamu di rumah orangtua kekasih pernah begitu berarti bagi kami para remaja pria SMA pada akhir 1990-an di Jakarta. Cukup vital untuk ditangani di antara keahlian menyontek, madol sekolah, cabut pelajaran, curi-curi merokok, mabuk nggak rese’, atau selamat dari tawuran. Mengapa? Ah, Anda cuma pura-pura tak tahu, bukan?

Perkara teras dan ruang tamu barangkali memang bisa tak begitu penting bagi cowok-cowok borju semasa SMA. Mereka bisa pacaran di mobil atau bioskop dengan modal fasilitas dan uang dari orangtua mereka. Sementara bagi remaja kere seperti kami, aksi curi-curi cium dan meremas apa yang aduhai itu tentu akan lebih indah, alami, dan masuk akal jika dilakukan tanpa meresahkan kantong yang selalu kering.

Kami jadi sadar betul, betapa gejolak hasrat penasaran yang tak sopan itu perlu dibekali panduan biar selamat sampai tujuan. Maksud banal cinta monyet para pejantan, di medan rumahan yang rawan intaian demi kencan murahan itu memerlukan bekal yang cukup. Inilah sejumlah di antaranya yang perlu awas diperhatikan.

Teras.
1). Apakah pagar rumah cukup melindungi kita dari pandangan orang yang lewat? Pastikanlah bahwa itu bukan pagar berjeruji renggang yang mengundang lirikan, apalagi jika di depan pagar ada warung rokok tempat nongkrong para pemuda tanggung.
2). Apakah teras tersebut cukup remang? Andai teras itu sedemikian terang-benderang sampai membuat kita bagai daging segar di pendingin supermarket, apa ada kemungkinan untuk mematikan lampu tanpa kepergok orangtua kekasih?
3). Apakah kursi teras itu membelakangi jendela ruang tamu? Apakah gorden jendela itu cukup tebal?
4). Apakah kursi teras berupa kursi panjang ramah dempetan atau kursi marahan yang dibatasi meja? Dan adakah kemungkinan untuk menata ulang perabotan demi “posisi yang menentukan prestasi” tanpa mengundang kecurigaan?
5). Mungkinkah pintu ruang tamu ditutup saja demi menghindari segala makhluk hidup yang mungkin keluar tanpa aba-aba?

Ruang Tamu.
1). Apakah dinding pembatas ruang tamu dengan ruang tengah cukup melindungi kita dari pandangan orangtua? Berupa tembok beton? Lemari kayu? Atau lemari kaca yang rawan intipan baik secara langsung atau melalui pantulan?
2). Apakah posisi ruang tamu dan ruang tengah sejajar? Atau serong, sehingga rawan pandangan diagonal?
3). Apakah suara televisi dari ruang lain cukup keras untuk menutupi lenyapnya suara obrolan saat aksi berlangsung?
4). Mungkinkah kita bisa duduk berdampingan di sudut-sudut sofa yang aman tanpa terkesan mojok?

Teras dan Ruang Tamu.
Apakah sang kekasih memiliki kakak atau adik perempuan juga, yang kemungkinan besar akan berbagi teras atau ruang tamu di malam kencan yang sama?

Itulah ilmu keruangan kami yang bisa menjanjikan kejayaan. Barangkali pula itu satu-satunya ilmu arsitektur tepat guna yang tanpa sadar telah kami selewengkan praktiknya sejak dini. Beberapa kawan bahkan sebisa mungkin, dengan berbagai cara, menyelidiki dahulu kondisi rumah perempuan yang ditaksirnya sebagai bahan pertimbangan yang—tak jarang—krusial, sebelum dia menyatakan cinta monyetnya. Malah ada seorang teman yang sontak kehilangan selera begitu tahu bahwa kondisi rumah si perempuan jauh dari aman dan terkendali.

Panduan tersebut, tentu saja mengabaikan kemungkinan adanya berkah istimewa, seperti rumah yang kosong karena orangtua kekasih sedang pergi ke luar kota, atau orangtua kekasih yang membolehkan kita bertamu di kamar anak gadisnya. Durian runtuh macam begitu jarang menimpa kepala. Juga, mengesampingkan gangguan santun macam ibu kekasih yang gemar bercengkerama sampai lupa permisi; atau tes kecerdasan lewat adu catur melawan bapak kekasih yang tak bersedia kalah; atau gangguan sadis macam cerita di sebuah serial remaja—Lupus karya Hilman, kalau tidak salah—di mana sang bapak menyuruh anak gadisnya menimba air di sumur yang tak pernah mereka punyai; atau teror mental seperti pengalaman saya dulu: di suatu malam yang mempesona, tiba-tiba bapak pacar saya keluar sambil mengokang senapan angin, ketika ditanya pacar saya, ia cuma mendesis, “Akhir-akhir ini di luar banyak tikus.” Saya langsung cemas kalau bulu-bulu tangan saya bakal disalah-artikan.

Hemat cerita, sangatlah berguna mencermati medan perang sebelum bergerilya. Semakin sulit medan, semakin kecil kemungkinan menang dalam perang, dan dibutuhkan kelihaian ekstra agar tak tertawan. Mereka yang tak waspada bisa bernasib nahas seperti teman SMA saya yang pacarnya menderita cacat “Ruang Tamu No 1: Lemari Kaca”: mereka dipaksa putus setelah tertangkap basah sedang ciuman.

Sejatinya, saya penasaran juga dengan para orangtua yang cukup cuek kala itu. Tentu yang saya maksud bukanlah sang ibu pengobral suara atau si bapak pembantai tikus itu. Namun mereka-mereka yang kita temui cuma di saat datang dan pulang, yang pernah kita sebut sebagai “mertua idaman” justru karena mereka tak pernah ada bagi kita. Apa mereka sungguh tak menyadari akan adanya aksi pemberangusan di teras atau ruang tamu itu? Padahal dari faktor suara saja, semuanya begitu mudah ditebak. Ambillah contoh sebuah apel selama tiga jam, dari jam 7 sampai 10 malam. Satu jam pertama: dari dalam rumah, masih bisa terdengar suara obrolan diselingi tawa mesra. Selanjutnya: sunyi senyap. Satu-satunya bunyi yang ada—bila dicermati—adalah bisikan manja, kecupan, atau malah lenguhan.

Sulit bagi saya membayangkan kalau sebenarnya orangtua mereka tahu tentang malpraktik tersebut. Apa alasan mereka membiarkan kami? Apa mereka memang memilih untuk tidak tahu? Atau malah menganggap hal-hal semacam itu mustahil terjadi? Sungguh, saya ingin tahu. Barangkali Anda yang perempuan, yang dulu sering diapeli, berminat menanyakan hal itu kepada orangtua Anda? Tentu jika situasi sudah aman dan tak balik menyerang bagai bumerang yang lancang. Anda bisa bertanya setelah Anda menikah, misalnya. Dan jangan lupa untuk menghubungi saya jika Anda sudah tahu jawabannya.

Sembari menunggu terungkapnya misteri zaman itu, saya tak kuasa untuk membayangkan, antisipasi apa yang perlu kita canangkan kepada anak-anak kita nanti? Di saat monyet-monyet itu sudah jauh lebih licik daripada kita dulu? Apa itu, sumpah, saya tak tahu. Setidaknya, perlu ada cara yang jauh lebih canggih dan berwibawa daripada sekadar mengubah seekor monyet menjadi tikus.

Saya melantur. Tapi percayalah, apa yang terjadi pada malam Minggu itu jauh dari menarik. Kami tak berkutik. Walau suasana jadi cukup romantis. Rahang kami pegal karena kebanyakan tertawa. Barangkali itulah waktu mengobrol terlama dalam sejarah kencan kami. Saat pamit yang dilama-lamakan di pagar, kami baru bisa berciuman. Tersenyum manja, ia bisikkan rencana nakal di malam lain yang bukan di rumah. Teras dan ruang tamu sepertinya memang cuma buat anak SMA.***